Posts

Showing posts from May, 2013

13) Romantisme ala Pulau Nias

Image
Mungkin inilah yang disebut dengan jodoh. Ketika aku sedang duduk istirahat di rumah Sanaly, seorang anak kecil datang menghampiriku. Anak yang masih berusia 5 tahun itu langsung menyukaiku dan aku pun menyukainya. Seketika itu juga aku langsung akrab dengan Anisa, anak Sanaly yang paling kecil. Kebetulan sekali, nama kami mirip. Sejak detik pertama kami bertemu sampai aku meninggalkan Sorake, kami tidak bisa terpisahkan. Dia selalu berada di sekitarku. Dia selalu ingin menceritakan banyak hal denganku walaupun sebenarnya banyak kata yang dia ucapkan tidak bisa kumengerti. Sehabis mandi sore dia langsung naik ke penginapan. Dia duduk di pangkuanku dan aku berusaha menyimak semua yang dia ceritakan padaku. Ketika kami sedang berbincang-bincang, datanglah salah satu cowok tetangga kamarku itu. " Is she your daughter ?" Kaget. Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan yang aneh itu. Awalnya kupikir kami akan berkenalan dengan saling menyebutkan nama sebagaimana normalnya. &q

12) Bawömataluo, desa di bukit matahari

Image
Waktu aku masih kecil, aku pernah berkhayal suatu hari nanti aku ingin pergi ke Nias untuk melihat atraksi lompat batu seperti yang ada pada gambar uang kertas di gemgamanku. Dua puluh tahun kemudian, aku datang ke tempat dimana atraksi lompat batu tersebut dilakukan yaitu desa Bawömataluo.   Kenangan masa kecilkulah yang membawaku ke Nias. Makanya di awal perkenalanku dengan instruktur selancarku, Helbin, aku katakan padanya bahwa aku ingin sekali melihat desa Bawömataluo serta atraksi lompat batu seperti di uang nominal seribu tersebut. Dan aku senang sekali ketika dia berjanji akan membawaku ke desa tersebut setelah kami selesai belajar berselancar. Desa Bawömataluo berada di Nias Selatan. Desa ini mewarisi kehidupan zaman megalitikum, makanya kita akan menemukan arca-arca batu di depan rumah penduduk. Sebenarnya desa ini bukan satu-satunya desa tradisional yang memiliki sisa-sisa peninggalan zaman batu tersebut. Hampir semua desa di Nias Selatan masih memiliki bukti-bukt

11) Sorake, surga bagi para peselancar

Image
Karena aku sudah memutuskan ingin belajar berselancar, maka aku ambil paket belajar selama 3 hari. Setelah melakukan proses tawar-menawar, akhirnya kami sepakat biayanya 300.000 dan aku akan mulai belajar sore ini. Dari teras penginapan, tidak bosan-bosannya aku memperhatikan para peselancar yang dengan sabarnya menunggu di tengah laut sampai datang ombak yang bagus untuk ditunggangi. Ketika ombak yang bagus sudah di depan mata, mereka langsung siap-siap berdiri di atas papan selancar kemudian berselancar mengikuti ombak. Para peselancar sedang menunggu ombak Berselancar di Sorake Berselancar di Sorake Ketika aku sedang menikmati pertunjukan tersebut, instrukturku datang dan mengejutkanku dengan pertanyaannya yang tiba-tiba. "Bisa berenang?" "Hmmm, bisa." "Takut berenang di laut?" "Tidak." "Berapa lama bisa tahan di dalam air?" "Hmmm, aku pernah berenang 500 meter tanpa berhenti." "Ok, mant

10) Musimnya cowok Brazil

Image
Sebenarnya aku menerima tawaran Felix karena dia sedang bersama tiga orang cowok. Tadi, sebelum kami naik pesawat aku sudah melihat mereka bertiga. Diantara seluruh penumpang, mereka langsung cepat bisa dikenal karena mereka tinggi, badan atletis, dan memiliki wajah ganteng. Aku sempat dengar salah seorang dari mereka bertanya kepada seorang penumpang lain berapa lama jarak dari bandara ke Sorake. Orang tersebut mengatakan lima jam. Apa? Lima jam? Seringkali kita tidak tahu berapa lama untuk sampai tujuan karena minimnya sarana transportasi atau jalan yang tidak mulus dan inilah yang menjadi alasanku untuk selalu memulai perjalanan di pagi hari. Dengan demikian aku bisa selalu memastikan paling tidak ketika hari sudah petang aku sudah berada di tempat tujuan. Ketika hendak turun dari pesawat aku dengar mereka bertanya lagi ke penumpang yang lainnya lagi mengenai jarak dari bandara ke Sorake. Dan orang tersebut mengatakan bisa sampai 3,5 jam karena jalanan sedang rusak. Oh gosh ,

9) Ya'ahowu, selamat datang di Nias

Image
Minggu lalu, ketika aku tanya ke salah satu loket maskapai yang ada di bandara Polonia, ternyata hanya tersedia 2 kali penerbangan ke Gunung Sitoli. Karena aku lebih suka memulai perjalananku di pagi hari, aku pun sengaja memilih penerbangan jam 7 pagi walaupun sebenarnya tidak rela karena harus bangun subuh-subuh. Aku tidak boleh ketinggalan pesawat. Trauma karena ketinggalan pesawat ke Bali beberapa bulan yang lalu dan harus beli tiket lagi masih membekas dalam ingatanku. Selain itu, seandainya aku ketinggalan pesawat dan masih bisa membeli tiket untuk penerbangan jam 2 sore nanti mungkin tidak terlalu jadi masalah. Lah, kalau seandainya semua tiket sudah terjual habis sampai beberapa hari ke depan, terpaksa deh impian untuk menginjakkan kaki ke Nias harus ditunda dulu sampai waktu yang tak terhingga. Pada akhirnya aku merasa bersyukur karena aku tidak ketinggalan pesawat walaupun sempat deg-degan karena sampai pukul 6.45 WIB aku belum juga check-in . Sistem check-in maskapai Li

8) Bukit Lawang, surganya orangutan

Image
Di pagi hari, aku sudah bersemangat karena membayangkan akan tubing hari ini. Balu memintaku menunggu di bawah pohon seri ( cherry ). Kelamaan menunggu, aku berbincang-bincang dengan warga lokal. Tiba-tiba mereka bilang, "Sudah ke feeding saja dulu, lagian sekarang lagi kasih makan orangutan." Disini istilah 'sebentar' bisa berarti setengah jam, satu jam, dua jam atau sampai waktu yang tidak terhingga. Kita tidak tahu berapa lama, hanya orang yang bersangkutan yang tahu. Bahkan Tuhan pun sepertinya tidak tahu berapa lama. Namun orang tersebut akan tetap mengatakan hanya sebentar. Kemarin, kami tidak jadi tubing karena Balu selalu mengatakan sebentar, namun urusannya tak kunjung selesai. Tadi, beberapa menit yang lalu, dia juga mengatakan sebentar. Aku berpikir, berdasarkan pengalaman kemarin dan hari ini, walaupun dia bilang sebentar bisa jadi sebenarnya maksudnya masih lama lagi. Saat ini saja, aku sudah menunggunya lebih dari sebentar. Walaupun sempat agak

7) Berburu orangutan di hutan Bohorok

Image
Pagi hari yang cerah di Bukit Lawang. Dan hal yang pertama kali kulakukan adalah meminta pindah kamar. Aku sudah tidak tahan melihat monyet-monyet yang berkeliaran di sekitar kamarku. Lalu aku dikasih kamar yang letaknya persis di pinggir sungai dan fasilitasnya lebih bagus dari kamar sebelumnya. Sembari sarapan, aku berbincang-bincang dengan Ucok, pegawai penginapan, mengenai aktivitas yang bisa kulakukan selama di Bukit Lawang. Ucok menawariku sebuah paket trekking ke hutan selama 3 jam setelah itu tubing di sungai Bohorok. Sebenarnya aku sudah cukup puas merasakan sensasinya tubing di Tangkahan. Tapi setelah berpikir sejenak bahwa jeram di sungai Buluh (Tangkahan) berbeda dengan sungai Bohorok. Sepertinya tubing di sungai Bohorok cukup layak untuk dicoba. Setelah sepakat mengenai harganya, akhirnya aku setuju untuk ambil paket yang ditawarkan oleh Ucok. "Baiklah. Intinya aku harus melihat orangutan ya Cok, karena itu misi utamaku datang ke Bukit Lawang ini." "

6) Hatiku masih ketinggalan di Tangkahan

Image
Aku sebenarnya masih mengantuk karena tadi malam kami menghabiskan waktu sampai larut malam di restoran Jungle Lodge. Aku sudah mencoba menutup mata tapi aku sama sekali tidak bisa tidur. Bukan karena pemandangan yang kulihat terlalu indah. Sepanjang perjalanan, aku hanya melihat sawit dan sawit lagi. Kondisi jalan yang off-road , membuat rasa kantukku hilang. Ini pengalaman pertamaku off-road , dan syukurlah aku berada di tangan ahlinya. Dari Tangkahan menuju Bukit Lawang, jalannya benar-benar rusak parah, apalagi kemarin dari sore hingga tengah malam hujan terus turun. Ditambah kontur jalan yang bergelombang, beberapa kali aku melihat pengendara motor harus turun dari motor mereka lalu berjalan sambil berusaha keras menuntun motornya. Kami yang di dalam jeep pun terombang-ambing ke kiri dan ke kanan, seolah-olah sedang berdisko tanpa iringan musik. Tapi aku bersyukur, paling tidak aku sekarang punya pengalaman off-road , walaupun baru sekali (hehe). Aku berbincang-bincang dengan

5) Detik-detik terakhir di Tangkahan

Image
Aku bertemu teman Kanadaku di restoran. Patricia bilang kalau pacarnya sedang sakit perut. Aku tanya Patricia, kira-kira kenapa pacarnya bisa sakit perut. Patricia bilang sepertinya gara-gara makanan. Aku jadi merasa kasihan mendengar kondisi John. Orang-orang yang terbiasa hidup di negara-negara maju memang seringkali memiliki masalah dengan makanan lokal. Untunglah ada obat diare. Semoga saja John segera sembuh. Aku dan Patricia pamitan karena besok pagi dia dan John akan naik bus Pembangunan Semesta yang berangkat jam 7. Dia takut tidak sempat bertemu denganku keesokan hari. Aku menghabiskan malam terakhirku dengan bercanda ria, bernyanyi, dan main kartu poker bersama Bob, Andre, Suka, Hendra, dan seorang pemandu tur cewek (aku lupa namanya). Malam itu merupakan malam yang sangat berkesan buatku, menghabiskan waktu bersama pemuda lokal. Para pemuda ini memiliki profesi sebagai pemandu. Mereka semua memiliki rambut yang sangat panjang. Menurut informasi, cewek-cewek bule menyukai p

4) Tangkahan, surga tersembunyi itu

Image
Bangun pagi, aku sudah tidak sabar untuk mulai berpetualang disini. Andrea, sang pemandu, memintaku untuk bersantai dulu karena dua turis lain yang akan menjadi temanku hari ini masih trekking dengan gajah di hutan. Aku sebenarnya ingin sekali naik gajah tapi aku terlambat, semua gajah sudah dipesan. Seharusnya aku melakukan pemesanan jauh-jauh hari. Di depan kamarku ada tempat tidur gantung. Aku mengambil buku Eat, Pray, Love yang sengaja kubawa untuk membunuh waktu di waktu senggang. Sambil tidur-tiduran di tempat tidur gantung (oh, I love hammock so much ), aku membaca. Aku tidak bisa berkonsentrasi pada buku yang ada di tanganku. Bagaimana mungkin aku bisa berkonsentrasi kalau aku berada di tempat seperti ini? Aku mendengar alam sedang bernyanyi. Kuletakkan bukuku di lantai, kututup mataku, sekarang aku bisa mendengar dengan lebih jelas lagi. Hutan sedang mendendangkan lagu yang sangat lembut, membuai diriku dan membawaku ke dimensi yang tidak dapat dilihat oleh mata. Jengkri