Dua tahun setelah Sebuah Perjalanan
Ilustrasi (sumber foto) |
Ketika aku berada di masa-masa terpuruk, teman-teman satu angkatanku dari Del Polytechnic of Informatics yang selalu menyemangatiku dan membantuku dalam banyak hal. Bahkan ada seorang sahabatku selalu menanyai kabarku setiap hari. Setiap hari. Dia selalu ingin memastikan aku rutin makan dan kondisiku sehat.
Memang banyak sekali penyesalanku di masa lalu. Tapi karena semua penyesalan itulah aku bisa hidup. Penyesalan itu menjadi motivasiku supaya ke depannya tidak boleh ada lagi penyesalan. Kalau penyesalan itu tidak ada, mungkin aku sudah mati. Bukan nyawaku yang mati, tapi jiwaku.
Ya, kini masa-masa kegelapan itu sudah berakhir. Masa-masa menyakitkan dan menyedihkan itu sudah selesai. Masa-masa kritis itu sudah berlalu. Hati, batin, serta jiwaku sudah dipulihkan dari rasa sakit dan kehancuran. Sekarang aku ingin terus melangkah ke depan. Sudah saatnya memasuki babak baru.
Aku pergi keliling Indonesia selama 6 bulan. Sebuah ide yang tiba-tiba tercetus di gili Trawangan dimana aku memulai Sebuah Perjalanan ini. Aku senang sekali ide (impianku) tersebut sudah menjadi kenyataan.
Dulu aku kekurangan motivasi melakukan hal-hal baik dalam hidupku. Sekarang aku sudah lebih mengerti tujuan hidupku dan punya motivasi yang kuat untuk menjalaninya. Tahun ini aku kembali ke bangku kuliah untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Dan kembali teman-teman satu angkatanku dari Del yang membantuku. Aku sempat kekurangan dana untuk membayar uang pembangunan dan uang kuliah yang mahal itu.
Tuhan... banyak sekali hal yang kusyukuri dalam dua tahun ini. Banyak sekali. Banyak sekali kejadian yang bisa kusaksikan bahwa TUHAN itu benar-benar ada dan DIA tidak tidur. Tidak pernah tidur.
Comments
Post a Comment